Berkat Tangan Dingin Dan Gaya Kepemimpinan Yang  Komunikatif Bupati Freddy, Merauke Aman dari Kerusuhan

Berkat Tangan Dingin Dan Gaya Kepemimpinan Yang  Komunikatif Bupati Freddy, Merauke Aman dari Kerusuhan

FOTO : Bupati Merauke Frederikus Gebze…

MERAUKE (otonominews) – Di tengah aksi demo yang berujung rusuh di berbagai tempat di Papua maupun sejumlah kota di berbagai provinsi, terkait isu rasial maupun RUU KHUP, situasi di Kabupaten Merauke tetap kondusif.

Seperti diketahui, sejak 19 Agustus 2019, telah terjadi unjuk rasa yang berujung pada kerusuhan di berbagai daerah di Papua dan Papua Barat, terkait isu rasial yang dibumbui dengan info hoaks  Unjuk rasa yang disertai kerusuhan tersebut bermula dari Manokwari untuk kemudian menjalar ke Jayapura, Sorong, Timika, Fakfak, Nabire, Yahukimi, dan Biak.

Meski dalam skala kecil, unjuk rasa juga sempat terjadi di Merauke. Akan tetapi, Merauke merupakan Kabupaten yang terbilang aman dari kerusuhan yang konon dipicu oleh sikap rasis sejumlah orang terhadap mahasiswa Papua di Malang, Jawa Timur.

Situasi kondusif di Merauke, yang tidak terpengaruh dengan berbagai provokasi tersebut,  patut diacungi jempol.

Tentu saja, hal itu, tak terlepas dari tangan dingin Bupati Merauke Frederikus Gebze, SE, M.Si dalam memimpin Kabupaten di ujung Timur Indonesia tersebut.

Bupati yang akrab disapa Freddy ini mengatakan bahwa Merauke, memang merupakan salah satu wilayah yang aman dari kerusuhan.

Hal itu, katanya, tidak lepas dari berbagai upaya yang dia lakukan sebagai orang nomor satu di Kabupaten Merauke.

Upaya-upaya tersebut antara lain, membangun kepercayaan di antara stakeholder, para pemangku kepentingan, dan para etnis. 

 “Kami juga membangun koordinasi dan komunikasi yang baik dengan TNI dan Polri,” ujar Frederikus Gebze kepada wartawan, Rabu (25/09/2019).

Lebih jauh, Freddy  juga mencoba melakukan kegiatan-kegiatan yang membuat masyarakat sibuk sehingga tidak sempat lagi untuk membaca berita hoaks atau informasi-informasi sesat.

“Kalau masyarakat sudah sibuk dengan banyak kegiatan, sudah tentu tidak akan memikirkan lagi tentang berita-berita hoaks,” jelas Freddy.

 

Hal lain yang dia lakukan adalah menanamkan kecintaan masyarakat Merauke terhadap negara dan bangsa. Menurut Freddy, hal itu harus terus menerus dihembuskan di tanah Papua.

“Selain itu kita harus berani memberi kepercayaan dan kesempatan kepada orang Papua berkiprah di kancah politik. Dengan demikian, mereka ada keadilan dan ada rasa kebersamaan. Bahwa mereka berada di tanah kelahirannya dan dia tahu bahwa dia bisa melaksanakan hak politiknya dengan baik,” papar Freddy yang di masa mudanya juga dikenal sebagai aktivis demonstrasi, yakni masih menjadi mahasiswa di Jakarta.

Di samping itu, sebagai kepala daerah dia berharap, ketika mengeluarkan statement, para pemimpin seperti bupati hingga gubernur harus yang menyejukkan.

“Sebagai kepala daerah kita harus bisa membuat suasana panas menjadi sejuk dan mengajak masyarakat untuk membangun yang bisa mempersatukan. Itulah yang paling penting. Kalau tidak, itu akan memicu kerusuhan. Kalau menyampaikan statement, seorang pemimpin tidak boleh keliru, bisa menjadi pemicu kerusuhan,” tegasnya.

Lain dari pada itu, Freddy juga berupaya untuk terus menerus menyuarakan perdamaian kepada para pendatang di Merauke. “Kita harus bisa mengayomi. Kita harus bisa menjamin kenyamanan dan keamanan mereka bermukim di Merauke, Dan kita harus pastikan mereka tinggal, hidup, makan, dalam kedamaian di sini. Kita harus pastikan itu,” imbuh Freddy.

Pihaknya memastikan kenyamanan dan ketenangan para pendatang tersebut dengan catatan orang Papua harus diberi kesempatan, baik dalam hal politik maupun dalam hal kesempatan-kesempatan yang lain. Sehingga, katanya, kalau ada kompetisi orang Papua sudah siap, tidak kegetan (terkejut).

Masih terkait hoaks atau berita-berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, Freddy juga punya cara jitu untuk mengantisipasinya.

“Kami menggandeng media-media seperti radio, media cetak, dan media online untuk menyampaikan himbauan agar masyarakat lebih cerdas menyaring informasi. Kita harus arif, bijak, dan terliti membaca tanda-tanda penyerangan. Penyerangan itu bukan lagi terorisme, tetapi teknokogi yang sudah sangat masif,” terangnya.

Tak hanya pada masyarakat, Freddy juga sudah men-design strategi bersama-sama Kapolres dan Dandim untuk memberi pernyataan pada mahasiswa, agar jangan sampai ada tindakan preventif agar mahasiswa menyampaikan pendapat secara lisan dan tulisan dengan aturan main.

“Menyatakan pendapat itu ‘kan ada aturan mainnya. Bila mereka tidak melaksanakan atau mengindahkan itu, maka konsekwensinya dikembalikan ke kampus untuk menindak,” tegasnya.

Freddy mengatakan, sejak kerusuhan yang terjadi di Manokwari hingga sekarang, pihaknya terus melakukan patroli bersama dengan TNI dan Polri. “Kami juga mendatangi dan melewati jalur-jalur di mana ada masyarakat. Walaupun tidak sering, tapi kami akan membeli hasil alam mereka. Mereka merasa, kehadiran kami bisa membantu atau paling tidak mengurangi rasa takut dan membuat suasana tenang. Karena sekarang kondisinya tengah panas,” ceritanya.

Tak hanya mengantisipasi terjadi keruruhan di Kabupaten Merauke, Freddy juga sudah menyiapkan diri menyambut Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 dengan memberi kebebasan kepada setiap calon khususnya putera daerah untuk menampilkan diri sebagai calon pemimpin.

Setiap calon yang akan maju juga kita ajak berdiskusi tentang program dan rencana ke depan. “Bagi saya, dalam situasi apa pun seorang pemimpin tidak angkuh, sombong, congkak, atau berlagak intelektual. Kita berusaha untuk bagaimana membuat supaya kita punya ketetapan pikiran bahwa setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnnya,” jelasnya.

Freddy menegaskan, apa pun upaya yang dialakukkan untuk menjaga agar Kabupaten Merauke tetap aman dan nyaman untuk dijadikan tempat bermukim, semuanya untuk keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Populer Berita