Warga Gorontalo Terkenang Dengan Berbagai Gebrakan Mantan Kapolda Rachmad Fudail

Walikota Gorontalo: Sosok Rachmad Fudail Sangat Humanis dan Merangkul Semua Kalangan

Walikota Gorontalo: Sosok Rachmad Fudail Sangat Humanis dan Merangkul Semua Kalangan

FOTO : Walikota Gorontalo Marten Taha …

GORONTALO (otonominews) - Serah terima jabatan (Sertijab) Kapolda Gorontalo dari Irjen Pol. Drs. Rachmad Fudail, MH., kepada Brigjen Pol. Drs. Wahyu Widada, M.Phil., sudah berlangsung, Jumat (08/11/2019). 

Namun, neski kepemimpinan sudah berganti,  apa yang sudah diperbuat Rachmad Fudail selama menjabat sebagai Kapolda, ternyata menjadi kenangan yang tak bisa dilupakan oleh masyarakat Gorontalo.

Hal itu juga dirasakan oleh Walikota Gorontalo H. Marten Taha, SE., M.Ec.Dev. Kepada otonominews yang mewawancarainya secara khusus, Rabu (13/11/2019), Marten Taha mengatakan, sangat banyak gebrakan yang telah dilakukan Rachmad Fudail di Provinsi Gorontalo.

Gebrakan tersebut, tentu saja berkaitan dengan Kamtibmas ketika berhadapan dengan event-event politik yang sangat menguras pikiran, tenaga, dan seluruh potensi kekuatan.

"Beliau harus bekerja keras untuk mengatasi masalah keamanan, ketertiban, dan ketenteraman masyarakat. Event tersebut mulai dari Pemilihan Gubernur yang saat itu bersamaan dengan Pemilihan Bupati Boalemo. Setelah itu dilanjutkan dengan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota. Saat itu juga bersamaan dengan Pemilihan Bupati Gorontalo Utara," urai Marten Taha.

Irjen Pol. Drs. Rachmad Fudail, MH., Saat Menerima Gelar Adat dari Para Pentinggi Adat di Gorontalo

Lebih jauh Marten Taha menjelaskan, ketika Pemilihan Gubernur, eskalasinya sangat luar biasa dengan persaingan para pendukung fanatik dan militan. Pada saat itu, jelasnya, potensi perselisihan, pertengkaran, dan perkelahian antar-kelompok sangat tinggi. 

"Akan tetapi, Pak Kapolda, saat itu Bapak Rachmad Fudail berhasil merangkul seluruh kekuatan dengan tujuan untuk menjaga keamanan dan ketertiban. Beliau mendayagunakan seluruh potensi Polri," jelasnya.

Rachmad Fudail dalam bekerja, lanjut Marten Taha, sangat fleksibel. Dia, katanya, selalu berupaya merangkul seluruh stakeholder. 

"Beliau sangat asyik. Merangkul tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, para pemuda, LSM, bahkan kaum wanita. Beliau sangat cool. Kepada mahasiswa pun beliau berusaha merangkul sehingga mahasiswa merasa dekat," paparnya.

Lebih jauh Marten Taha menjelaskan, komunikasi yang dibangun dan pendekatan yang dilakukan oleh Rachmad Fudail lebih kepada yang bersifat informal. Hal tersebut dilakukan Rachmad Fudail, jelas Marten Taha, agar terbangun sikap saling memahami antar-sesama.

Rachmad Fudail, lanjut Marten Taha, sangat humanis. Hal itu terlihat dari caranya melakukan pendekatan kepada seluruh lapisan masyarakat. 

Walikota Gorontalo Marten Taha Saat Berbincang Santai dengan Irjen Pol. Drs. Rachmad Fudail, MH.

"Beliau berkomunikasi dengan kita secara langsung. Beliau juga membangun komunikasi dengan kabupaten dan kota melalui Kapolres dan jajarannya yang lain. Beliau benar-benar menerapkan sistem komunikasi yang sangat baik. Beliau sangat humanis. Membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan dengan baik juga, Mungkin itu sebabnya beliau bisa dapat menantu orang Gorontalo," papar Marten Taha.

Karena apa yang dilakukan  Rachmad Fudail tersebut, maka masyarakat pun merasa bahwa dia adalah putera Gorontalo. 

"Beliau adalah satu-satunya Kapolda yang diberi gelar adat oleh pemangku adat. Bila ada seorang pejabat yang mendapat gelar seperti itu, tentunya sudah melalui penilaian ketat dan paripurna," ujarnya.

Untuk mendapatkan gelar adat di Gorontalo bukanlah perkara mudah, karena harus melalui penilaian yang sangat ketat. Beberapa penilaian tersebut di antaranya di penerima gelar adat haruslah seorang yang bertanggungjawab dan mampu menyelesaikan setiap persoalan dengan baik.

Sekolah Polisi  Negara (SPN) di Gorontalo yang Digagas oleh Irjen Pol. Rachmad Fudail, MH. Pada Saat Menjabat Kapolda Gorontalo

Lebih jauh Marten Taha menjelaskan, si penerima gelar adat pun haruslah seorang yang bisa menjaga dan membuat Gorontalo dalam kondisi aman dan tenteram.

"Terbukti, event-event politik yang berlangsung sengit, bisa dilalui masyarakat dengan aman. Itu semua berkat kepemimpinan Pak Rachmad Fudail yang bisa merangkul semua pihak. Bukan hanya satu event politik, tapi ada Pilkada Pilgub, Pilwako, Pileg, hingga Pilpres. Semua itu pasti menguras tenaga dan pikiran. Tapi Pak Rachmad Fudail berhasil membuat Gorontalo aman," terang Marten Taha.

Jasa sangat besar bagi masyarakat Gorontalo yang sudah ditanamkan oleh Rachmad Fudail, lanjut Marten Taha adalah pembangunan Sekolah Polisi Negara (SPN) yang sudah meluluskan tiga angkatan.

Menurut Marten Taha, selama ini jika ada anak-anak Gorontalo yang ingin mengabdi melalui jalur Kepolisian harus mendaftar ke Manado atau Makassar dan jumlahnya pun sangat minim. Dengan adanya SPN yang dibangun oleh Rachmad Fudail, lanjutnya, anak-anak Gorontalo tak perlu jauh mendaftar dan jumlahnya pun bisa ratusan orang.

"Sekarang sudah tiga angkatan anak Gorontalo yang masuk SPN. Angkatan pertama 200 orang, angkatan kedua 250 orang, dan sekarang angkatan ketiga sudah mencapai 300 orang. Itu sebabnya para pemangku adat melihat jasa Pak Rachmad Fudail sangat besar bagi Gorontalo. Hingga mereka memberi gelar adat sebagai seorang penjaga keamanan yang sangat dihormati dan dihargai oleh masyarakat," papar Marten Taha.

Gelaradat itu juga berarti seorang prajurit yang mampu menghalau segala apa saja yang menyerang wilayah itu sehingga masyarakatnya hidup tenang aman dan tentram di daerah. 

"Itu adalah gelar adat tertinggi dan tidak sembarangan diberikan. Salah satu tokoh yang pernah dapat gelar adat adalah Pak Habibie. Dan kebanyakan adalah tokoh masyarakat yang berasal dari Gorontalo. Pak Rachmad Fudail adalah salah satu tokoh yang bukan berasal dari Gorontalo tapi diberi gelar adat. Itu semua karena prestasi beliau yang sangat luar biasa," pungkasnya.

Populer Berita