Nadiem Makarim Main Mata dengan Pihak Swasta

Aneh bin ajaib!, Laksamana: Anak Didik Usia Muda Terpaksa atau Dipaksa 'Nganggur'

Aneh bin ajaib!, Laksamana: Anak Didik Usia Muda Terpaksa atau Dipaksa

FOTO : Direktur Eksekutif Laksamana, Samuel F. Silaen…

JAKARTA (otonominews) -- Dunia pendidikan kini berduka karena aturan yang dibuat Menteri Nadiem Makarim, kacau-balau dengan dipaksakan zonasi usia dan anak peserta didik usia tua lebih diutamakan dari usia muda.

"Meskipun yang usia muda bertempat tinggal lebih dekat dengan sekolahnya, aneh bin ajaib! Ada apa?," kata Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F. Silaen kepada Wartawan di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Dibuatnya aturan zonasi baik adanya, supaya anak didik tidak kelelahan diperjalanan menuju sekolahnya. Sistem zonasi dibuat untuk mencegah tauran anak dijalanan ketika pulang sekolah. "Aturan zonasi tersebut berhasil menekan jumlah tauran pasca diberlakukan aturan sistem zonasi," ungkap Silaen aktivis organisasi kepemudaan itu.

Zonasi itu juga dibuat dalam rangka menekan biaya transportasi yang harus dikeluarkan oleh orang tua murid/ siswa. Meski di DKI Jakarta moda transportasi digratiskan. Aturan PPDB di DKI Jakarta juga banyak menuai kontroversi sama halnya di daerah lain. 

Anak didik/siswa yang berdekatan dengan tempat sekolahnya bisa pergi dan pulang berjalan kaki. Artinya si anak didik/ siswa jadi sehat dengan berjalan kaki. Banyak keuntungan sistem zonasi buat anak didik dan orang tua.

"Sistem zonasi itu jangan dititik-beratkan soal perkara usia 'tua- muda' tapi jaraknya lah yang menjadi faktor utamanya. Jadi jangan dibalik, kalau dibalik jadi kacau dehh," cetus Silaen. 

Yang lebih kacau lagi adalah ketika selepas tamat SD menuju SMP, lalu berikutnya dari SMP menuju SMU, usia peserta didik jadi penghalang/penghambat masuk sekolah negeri yang terdekat dengan tempat tinggal di anak didik tersebut. "Aneh bin ajaib deh!, "ujar Silaen.

"Pertanyaan saya, apa maksud yang tersembunyi sang menteri pendidikan Nadiem Makarim. Pak Menteri ini mendapatkan masukan atau bisikan dari siapa sih? tanya Silaen.

Hingga aturan zonasi itu berubah jadi perkara soal usia 'tua muda' yang jadi perioritas dan tolak ukurnya! Masyarakat dibikin resah dan gelisah oleh aturan zonasi usia itu, anak didik usia muda terpaksa atau dipaksa 'nganggur' oleh aturan Menteri Gojek ini, hingga harus menunggu usia cukup tua baru lanjut sekolah lagi, orang tua peserta didik tidak mau anaknya masuk sekolah swasta karena tak mampu biayanya.

"Anak usia muda tidak bisa melanjutkan sekolah karena alasan usia belum cukup lalu memberikan kepada usia tua meski jarak tinggalnya jauh. Apa yang melatarbelakangi aturan Kadisdik DKI jakarta itu?" pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan masalah zonasi berbasis Kelurahan dan usia ini belum terpecahkan dalam PPDB yang ada saat ini. Penerimaan peserta didik baru menuai polemik karena penggunaan umur untuk menentukan penerimaan siswa pada jalur zonasi.

"Menteri Pendidikan dan Balaikota Jakarta didemo karena rakyat bingung akibat anak- anak mereka tak diterima lanjut sekolah karena usia tak cukup umur, banyak orang tua yang demo menuntut aturan zonasi umur/ usia diubah menjadi zonasi jarak. Pendidikan macet masa depan bangsa terancam bubar jalan," tandas Silaen.

Populer Berita