Komnas HAM Temukan 7 Proyektil dan 4 Selongsong Peluru

Husnie | Senin, 28 Desember 2020 - 12:27 WIB

Komnas HAM Temukan 7 Proyektil dan 4 Selongsong Peluru FOTO : Ketua Tim Penyelidikan Komnas HAM RI, M. Choirul Anam


JAKARTA, (otonominews) -- Ketua Tim Penyelidikan Komnas HAM RI, M. Choirul Anam mengungkapkan hasil investigasi kontak tembak antara polisi dengan 6 laskar Front Pembela Islam (FPI) di Tol Jakarta-Cikampek Km 50.  Dia menyebut  timnya menemukan 7 proyektil dan 4 selongsong peluru, di TKP sekitar lokasi kontak tembak.

Komisioner Komnas HAM Choirul Anam menyebut pihaknya menemukan sejumlah barang bukti dalam investigasi lapangan terkait kematian 6 laskar Front Pembela Islam (FPI). Adapun jumlah proyektil peluru yang ditemukan berjumlah tujuh, sedangkan selongsong peluru ada empat.

Anam menuturkan, dari tujuh proyektil yang ditemukan, sebanyak enam buah dapat dipastikan kebenarannya. Sedangkan dari selongsong peluru ada satu masih utuh dan 3 lainnya diduga bagian belakang selongsong yang masih akan digali.

“Ini kayak bagian pelatuknya, ini juga kita selongsongnya 1 bentuknya memang tidak berubah, kalau yang 3 bentuknya apa ini bagian selongsong, kami belum bisa menilai,” ujar Anam, dalam konferensi pers di Ruang Pleno Utama Komnas HAM RI Lantai 3, Jl. Latuharhary No. 4B Menteng, Jakarta Pusat, Senin (28/12/2020).

Choirul menjelaskan, dari 4 selongsong yang ditemukan, 3 di antaranya masih utuh. Sementara satu lagi, sebut Choirul, Komnas HAM belum bisa memastikan.

"Kedua, selongsong jumlahnya 4. 3 Utuh, 1-nya kami duga bagian belakang. Satu lagi (no. 17) apakah ini bagian dari selongsong itu kami belum bisa menilai. Ini (selongsong no.17) tetap kita masukan ke sini tapi dengan catatan. Yang 1 proyektil tadi juga begitu," sambungnya sambil menunjukkan bukti selongsong yang ditemukan.

"Apakah ini betulan bagian dari selongsong itu, kami belum bisa menilai. Makanya kami masukan di sini dengan catatan ini tidak terlalu firm," imbuhnya.

Begitu pula proyektil peluru. Choirul juga menunjukkan bukti proyektil yang ditemukan.

"Yang proyektil tadi juga begitu, kalau yang lain modelnya begini, yang ini modelnya begini. Nah ini kita tidak terlalu firm, makanya kami catat satu yang tidak terlalu firm," ucapnya.

Anam menegaskan, pihaknya masih akan melakukan uji balestik terhadap proyektil dan selongsong peluru yang mereka temukan. Untuk itu, pihaknya belum bisa memberikan kesimpulan apapun atas penemuan ini.

Kemudian, Anam menjelaskan ihwal kondisi mobil yang ditumpangi oleh anggota FPI dan Kepolisian. Dari hasil pengamatan pihaknya, bagian mobil yang rusak ada banyak sehingga tidak bisa didetailkan dan masih akan diuji terlebih dulu. 

"Berikutnya kalau bagian mobil sangat banyak, ini akan kita uji. Karena secara kasat mata dilihat pemeriksaan mobil itu ada yang sebagian kecil banget ada yang identik dan lain harus dibuktikan," tuturnya.

Dia menyebut akan melakukan uji balistik terkait dengan barang-barang bukti tersebut. Nantinya, uji balistik akan dilakukan secara terbuka. "Masih membutuhkan uji balistik. Kami sedang mengupayakan uji balistik sifatnya transparan dan terbuka, akuntabel yang paling penting," katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komnas HAM Amiruddin menjelaskan barang bukti tersebut ditemukan di lokasi terjadinya penembakan.

"Didapatkan proyektil peluru, ini proyektilnya dan juga selongsong ini juga didapatkan Komnas HAM di jalanan itu, ini udah kami dapatkan," kata Amiruddin.

"Selongsong 4, tiga utuh. Kami duga bagian belakang, ini kayak bagian pelatuknya yang frem selongsongnya 3, kalau yang satunya apakah ini betulan kami belum bisa menilai, dengan catatan belum frem, yang proyektil juga berbeda-beda. Kami catat," sambungnya.

Selanjutnya, Komnas HAM akan meminta bantuan ahli untuk meneliti temuan selongsong tersebut.

"Terhadap ini semua, bukti-bukti ini alat-alat bukti ini tentu kami membutuhkan ahli lainnya, dalam kesempatan ini juga masih dalam proses," lanjut Amiruddin.

Dia menjelaskan barang bukti tersebut akan diuji kembali oleh timnya. Sementara itu, pasca kejadian penembakan pihaknya langsung melakukan investigasi dan telah memanggil beberapa pihak.

"Beberapa pihak antara lain baik dari FPI, Polda, Bareskrim, dan dokter forensik, barbuk serta saksi-saksi, petugas di lapangan, masyarakat yang merasa melihat peristiwa tersebut, tim Komnas HAM juga melakukan penyelidikan di lapangan dan mendapatkan sejumlah barang," ungkap Amiruddin.

BACA JUGA