Satgas Covid-19 Ungkap Alasan Perpanjang PPKM

Hen | Jumat, 22 Januari 2021 - 07:10 WIB

Satgas Covid-19 Ungkap Alasan Perpanjang PPKM FOTO : Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito.(ist)


JAKARTA (Otonominews.co.id)  Pemerintah resmi memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), terhitung mulai 25 Januari hingga 8 Februari 2021.

Keputusan tersebut lantaran PPPKM yang diberlakukan sebelumnya, atau PPKM jilid 1 tidak menunjukkan hasil significan. 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito dalam keterangan pers dari Kantor Presiden, Jakarta mengatakan, kebijakan PPKM sebagai bentuk intervensi pemerintah terhadap kasus Covid-19, membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan hasilnya. Sementara, dampak yang dihasilkan akibat adanya pemicu atas penularan kasus membutuhkan waktu yang lebih singkat. 

"Perlu adanya pelaksaanaan kebijakan ini secara sungguh-sungguh, untuk menghasilkan perubahan yang signifikan terhadap penanganan kasus Covid-19, berdasarkan seluruh indikator yang ada," kata Wiku saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Gedung BNPB, Kamis (21/1). 

Indikator yang dimaksud, Wiku menjelaskan, berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri No. 1 Tahun 2021 tentang PPKM. Ada empat indikator kasus Covid-19, kematian, kesembuhan dan keterisian tempat tidur atau bed of ratio (BOR).

Dipaparkan Wiku, hasil evaluasi per 11 Januari dan 18 Januari 2021, terlihat indikator sebagai berikut:

Kasus aktif: 46 kabupaten/kota meningkat, 24 kabupaten/kota menurun, dan tiga kabupaten/kota tidak berubah

Tingkat kematian: 44 kabupaten/kota meningkat, 29 kabupaten/kota menurun. Tingkat kesembuhan: 37 kabupaten/kota menurun, 36 kabupaten/kota meningkat

"Dan berdasarkan bed occupancy ratio, 6 dari 7 provinsi atau 66,32% masih di atas parameter nasional meski terlihat ada peningkatan hasilnya belum maksimal sehingga diputuskan perpanjangan dua minggu ke depan," ujar Wiku.

Mengenai protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan), Wiku mengatakan, ada peningkatan kepatuhan memakai masker 12% dan menjaga jarak 20%.

"Meski demikian jumlah ini masih jauh di bawah apabila dilakukan pemantauan pada September tahun lalu. Makanya satgas mengimbau untuk disiplin protokol kesehatan dan posko daerah untuk meningkatkan upaya preventif dan mencegah pelanggaran," kata Wiku.

Sedangkan 3T (testing, tracing dan treatment), lanjut dia, testing secara nasional sudah melampaui standar WHO, yaitu 267.000 per pekan. Tantangan utama adalah treatment karena kasus aktif naik.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menurut Wiku, telah melakukan peningkatan tempat tidur 30%-40%, penambahan tenaga kesehatan sebesar 8.572 dari 148 faskes termasuk rencana relaksasi STR dalam penanganan Covid-19.

Wiku pun menyebut Kemenkes melakukan pemanfaatan sistem rujukan terintegrasi untuk mengatur alur rujukan terintegrasi. Tidak kalah penting adalah rapid swab test antigen dan PCR yang lebih luar dalam rangka tracing yang masif.