Wamenkes Ungkap 65 Varian Virus Baru Ganas Terdeteksi Masuk Indonesia

hen | Kamis, 10 Juni 2021 - 19:38 WIB

Wamenkes Ungkap 65 Varian Virus Baru Ganas Terdeteksi Masuk Indonesia FOTO : Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono.(ist)


JAKARTA (Otonominews.co.id) - Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Herbuwono mengatakan, ada 65 kasus varian baru di Indonesia yang termasuk variant of concern oleh WHO. Varian virus ini masuk katagori lebih ganas dan mudah menular. 

Dante mengungkapkan hal tersebut dalam acara dialog virtual, Kamis (10/6).

Diketahui bahwa angka kasus yang berasal dari mutasi SARS-CoV-2 alias virus corona terus bertambah. Terhitung hingga 31 Mei 2021, sebanyak 59 kasus mutasi ditemukan di Indonesia. Itu berarti hingga hari ini terdapat penambahan sebanyak 6 kasus baru.

Mutasi atau varian tersebut cukup mengkhawatirkan lantaran penyebarannya yang jauh lebih cepat dari virus aslinya.

Menurut Dante, perlu dilakukan proses Whole Genome Sequencing (WGS) dengan sampel acak untuk mendeteksi adanya mutasi tersebut. Proses itu, kata Wamen, hanya dapat dilakukan di 17 laboratorium yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Jadi ada 17 laboratorium di seluruh Indonesia yang mampu memeriksa whole genome sequencing untuk deteksi varian baru. Upaya kita adalah mengirim secara random tiap minggu dari tiap-tiap wilayah sebanyak 5 sampel secara acak," jelas Wakil Menteri Kesehatan dr Dante Saksono Harbuwono 

Dante menjelaskan dari data 17 laboratorium itu diketahui ada 65 kasus varian baru di Indonesia yang termasuk variant of concern oleh WHO, termasuk lebih ganas dan mudah menular. Baik itu B117, B1617, dan B1352.

"Data tersebut dikompilasi, kemudian kita analisis, sejauh ini sudah ada 65 kasus mutasi varian yang diperiksa 17 lab yang ada di seluruh Indonesia tersebut," kata Dante.

Dipaparkannya, varian-varian baru seperti B.1.1.7 asal Inggris, varian B.1617 asal India, dan B.1.351 asal Afrika Selatan diketahui memiliki kemampuan penyebaran yang begitu cepat. Maka dari itu, WGS dilakukan untuk mengantisipasi adanya varian baru dalam suatu wilayah dengan tingkat penyebaran yang juga cepat dan masif.

"Jadi, varian-varian tersebut perlu dideteksi. Tapi lebih baik kita menganggap ada varian baru tersebut daripada kita abaikan. Sehingga pendekatan yang lebih intensif kita lakukan khususnya di daerah yang penyebarannya cepat," paparnya.