Habib Rizieq Mengaku Tidak Tahu Siapa Yang Mengkhianati Dialog dan Kesepakatan

Husnie | Kamis, 10 Juni 2021 - 18:25 WIB

Habib Rizieq Mengaku Tidak Tahu Siapa Yang Mengkhianati Dialog dan Kesepakatan FOTO : Hsbib Rizieq Shihab (int)


JAKARTA, (otonominews) -- Habib Rizieq Shihab (HRS) saat membacakan pleidoi dalam kasus tes usap palsu RS Ummi Bogor, mengungkapkan pernah ditemui Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan di sebuah hotel di Jeddah, Arab Saudi.

Pertemuan itu terjadi saat ia tinggal di Arab Saudi pada setahun pertama sebelum saya dicekal atau diasingkan,

"Saya selalu membuka diri dan megajak Pemerintah Indonesia untuk berdialog menyelesaikan semua konflik demi menjaga persatuan dan kesatuan NKRI," kata Habib Rizieq di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (10/6/2021).

Habib Rizieq juga menceritakan pernah dihubungi Menko Polhukam RI Jenderal TNI (Pur) Wiranto pada awal bulan Syawal 1438 H sekitar akhir Mei 2017, saat dirinya berada di Kota Tarim, Yaman.

Wiranto mengajak Habib Rizieq dkk untuk membangun kesepakatan membuka pintu  dialog dan rekonsiliasi. "Kami sambut baik imbauan beliau tersebut, karena sejak semula justru itu yang kami harapkan," tuturnya..

Lalu sekitar awal Juni 2017 yang juga pertengahan bulan Syawal 1438 H, Habib Rizieq bertemu dan berdialog langsung dengan Kepala BIN Jenderal Polisi (Pur) Budi Gunawan bersama timnya di salah satu hotel berbintang lima di Kota Jeddah, Saudi Arabia.

Hasil pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan hitam di atas putih tentang penghentian semua kasus hukum terhadap Habib Rizieq. Dia juga mengungkapkan Ma'ruf Amin juga ikut menandatangani kesepakatan itu.

Salah satu isi kesepakatan itu adalah menghentikan kasus yang menjerat Habib Rizieq dkk saat itu. Dia juga sepakat untuk mendukung pemerintahan Jokowi selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

“Sehingga tidak ada lagi fitnah kriminalisasi, dan sepakat mengedepankan dialog daripada pengerahan massa, serta siap mendukung semua kebijakan Pemerintahan Jokowi selama tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam dan konstitusi negara Indonesia,” kata Habib Rizieq.

Menurut Habib Rizieq hasil pertemuan tersebut sangat bagus. Kesepakatan tersebut ditandatanda tangsni oleh dirinya sendiri dan Komandan Operasional BIN saat itu Mayjen TNI (Pur) Agus Soeharto di hadapan Kepala BIN dan timnya.

"Kemudian surat tersebut dibawa ke Jakarta dan dipersaksikan serta ditanda-tangani juga oleh Ketua Umum MUI Pusat KH Ma'ruf Amin yang kini menjadi Wakil Presiden RI," ungkapnya..

Habib Rizieq juga mengungkapkan pada 2018 dan 2019 juga bertemu dengan Kapolri saat itu, Tito Karnavian, di salah satu hotel dekat Masjidil Haram.

Dalam pertemuan di salah satu hotel berbintang lima di dekat Masjidil Haram kota suci Mekkah, Habib Rizieq menekankan bahwa dirinya siap tidak terlibat sama sekali dengan urusan politik praktis terkait Pilpres 2019 dengan tiga syarat: stop penodaan agama, stop kebangkitan PKI, stop penjualan aset negara ke asing mau pun aseng.

Usai membuat kesepakatan itu, Rizieq mengaku sudah siap pulang kembali ke Indonesia. Namun tiba-tiba dia mendapat kabar telah dicekal oleh Pemerintah Arab Saudi.

"Saya tidak tahu, apakah Menko Polhukam Wiranto dan Kepala BIN Budi Gunawan serta Kapolri Tito Karnavian yang mengkhianati dialog dan kesepakatan, serta mereka terlibat dalam operasi intelijen hitam berskala besar tersebut, atau memang di sana ada pihak lain yang memiliki kekuatan besar yang melakukan operasi rahasia untuk melayani oligarki anti-Tuhan yang bersembunyi di balik instrumen kekuasaan. Wallaahu a'lam," ujar Habib Rizieq.

Habib Rizieq menyatakan pada akhirnya kesepakatan itu kandas karena adanya operasi intelijen hitam berskala besar yang mengakibatkan dirinya dicekal. Dia menyebut ada pihak yang telah berkhianat terhadap kesepakatannya.

"Namun sayang sejuta sayang, dialog dan kesepakatan yang sudah sangat bagus dengan Menko Polhukam RI dan Kepala BIN serta Kapolri saat itu, akhirnya semua kandas akibat adanya operasi intelijen hitam berskala besar yang berhasil mempengaruhi Pemerintah Saudi, sehingga saya dicekal atau diasingkan dan tidak bisa pulang ke Indonesia," cetusnya.

Ditempat terpisah Deputi VII BIN, Wawan Hari Purwanto kepada pers, Kamis (10/6/2021) membantah pleidoi Habib Rizieq Shihab yang menyebut dirinya pernah bertemu Kepala BIN, Budi Gunawan, di Mekah Arab Saudi pada 2017 lalu.

“Tentang isu pertemuan dengan Pak BG di Arab Saudi tidak pernah terjadi. Sedangkan mengenai pertemuan dengan Pak Tito selaku Kapolri pada waktu itu agar ditanyakan langsung kepada beliau,” kata Wawan.

Selain itu, Wawan juga menyatakan bahwa dirinya belum pernah melihat langsung dokumen perjanjian yang disebutkan Rizieq dalam sidang tersebut. Sehingga dirinya tak bisa mengkonfirmasi lebih lanjut.

Ia menjelaskan, dokumen resmi dari lembaga intelijen negara pasti memiliki kop surat dengan logo instansi resmi. Sehingga, kata dia, hakim dalam persidangan perlu mengkonfirmasi lebih lanjut keabsahan dokumen yang disebut-sebut Rizieq.

“Karena ini sudah masuk di persidangan, maka jika surat tersebut ditunjukkan, hakimlah yang menilai keabsahan dan kebenaran surat itu secara hukum setelah ada uji forensik,” ucapnya.

Wawan mengatakan bahwa lembaganya tak pernah mengeluarkan perjanjian yang mengatasnamakan perorangan. Setiap MoU yang diterbitkan pasti melibatkan antar lembaga.

“Di BIN sendiri tidak ada arsip surat dimaksud, biasanya jika ada MoU pasti ada arsip. Maka seyogyanya perihal surat tersebut ditanyakan otentikasinya ke MRS,” pungkasnya..