@Anies 'Makin Kurang Ajar' Dengan Jaklinkonya

husnie | Rabu, 16 Juni 2021 - 15:34 WIB

@Anies 'Makin Kurang Ajar' Dengan Jaklinkonya FOTO : Jaklingko (int)


Oleh:  Moh. Naufal Dunggio *)

BEKASI, (otonominews) -- Betapa nikmatnya jadi warga Jakarta karena makin di manjain oleh Pemda DKI dalam hal ini Goodbenernya Anies Rasyid Baswedan. Bukan hanya kereta komuternya yg pakai kartu, angkot sekarang juga pakai kartu. Udah dua tahun ini angkot pakai kartu alias gratis naik angkot.

Program pak Gub dengan Jaklinkonya benar-benar membahagiakan warganya dan membikin naik gula darah para BUZZERRp Cebong Bipang Laknatullah.

Dengan sisa waktu masa jadi Goodbeneeer tinggal kurang lebih 3 tahun tidak menjadikan Bang Anies berleha² menikmati jd Goodbeneeer tapi tetap mewujudkan janji² kampanyenya yakni memajukan kotanya dan membahagiakan warganya.

Kembali kepada Jaklinko dengan angkot pakai kartunya. Ini bukan kartu dominonya atau kartu reminya.

Satu persatu penumpang di belakang nyerahin kartu. Oleh sopir kartu itu di tempel di mesin kecil yang ada di depan. Bunyi tiiit. Lalu, kartu itu dikembalikan satu persatu ke para penumpang. Ane coba nanya-nya ke sopir.

Ini gratis pak. Sudah dua tahun.

Ini betul gratis? Tanyaku lagi. Betul! 0 rupiah bayarnya. Sopir itu menjawab. Aku lihat di mesin, betul. Angka 0.

Berarti digaji bulanan ya mas? Tanyaku lagi. Berapa gaji sebulan? 4,2 juta, katanya. Oh, gaji tetap, gak dikejar setoran, kerja dengan tenang. Sahutku. Sopir mengangguk.

Kutanya sopir lagi, ada berapa jumlah angkot yang gratis di DKI? Dia beri rincian per rute. Hapal betul sopir ini. Anda sopir atau pengusaha angkut? Gumam dalam hatiku. Totalnya, kata si sopir, ada ratusan angkot Jaklinko di DKI. Gratis. Ini luar biasa!

Sampai di Lebak Bulus aku turun. Semua penumpang, tanpa terkecuali mengucapkan terima kasih ke mas sopir. Gratis, bawa angkotnya santai dan komunikasinya santun.

Bagiku, ini bukan hanya soal gaji, angkot dan sopir. Tapi ini soal perilaku. Semua jadi berubah. Dengan gaji tetap, sopir tak lagi kejar setoran. Tak perlu zig zag, potong jalan, ngebut dan ngerem mendadak yang bisa membahayakan penumpang dan pemakai jalan yang lain. Mobil terawat, nyaman di jalan, gratis pula.

Ada sekitar 1 juta warga Jakarta yang menggunakan angkot setiap harinya. Jika semakin banyak warga menggunakan jasa angkot, maka akan berpengaruh pertama, pada kemacetan. Akan sangat berkurang. Kedua, lebih ekonomis. Gratis, gak perlu boros bensin. Kalau harus naik bus way atau MRT, murah sekali bayarnya. Sangat terjangkau oleh karyawan dengan gaji rendahan. Ketiga, angkot jadi tempat plural dan heterogen dalam interaksi dan pergaulan. Semua identitas dan status sosial melebur dalam satu lingkungan interaksi. Di tempat publik ini, ego status runtuh. Orang gak kenal direksi, komisaris atau manager. Yang mereka lihat adalah penumpang angkot.

Sekali lagi, ini bukan hanya soal angkot yang gratis. Tapi ini soal pluralitas, pembauran sosial dan terapi mental yang berefek pada terurainya kemacetan dan juga managemen ekonomi keluarga. Banyak hal positif yang bisa diurai dari program Jaklinko ini.

Program Jaklinko DKI sangat baik dan proper.

Terima kasih Pemda DKI, Gubernur Anies Baswedan,  Anda telah membuat perubahan mental dan perilaku warga. Indah dan enaknya jd warga Jakarta dengan Gubeneeer Anies Baswedan. Wallahu a'lam.

*) Aktivis dan Ustadz Kampung