Anies Baswedan: Jangan Anggap Covid Sepele, Seakan Hanya Ada Di Berita

husnie | Sabtu, 17 Juli 2021 - 05:43 WIB

Anies Baswedan: Jangan Anggap Covid Sepele, Seakan Hanya Ada Di Berita FOTO : Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ikut mengaminkan doa-doa para peziarah di TPU Rorotan


JAKARTA, (otonominews) – Ditemani oleh Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Provinsi DKI Jakarta Suzi Marsitawati, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menyempatkan diri menemani warga Jakarta yang mendoakan sanak saudara yang meninggal karena covid di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Dalam tinjauan itu, Anies ikut larut dalam kesedihan menyaksikan sebuah keluarga yang bersedih atas wafatnya kedua orang tua karena Covid-19. Anies  lalu mendekati peziarah yang sedang melantunkan doa di atas kubur ayahnya. Seorang perempuan terlihat menyeka air mata dengan kerudung merahnya. Air matanya terus mengalir, kerudung merah itu telah basah jd penyeka air mata.

Di TPU Rorotan, Anies mengaku menemui ibu-ibu berkerudung merah dan laki-laki berjaket ojol. Mereka, kata Anies, adalah kakak-adik yang sedang berdoa di kuburan keluarganya. Kedua orang tuanya wafat karena terpapar Covid-19.

Mengitari makam. Berdua. Perempuan berkerudung. Laki-laki berjaket ojol dengan kopiah putih. Berjongkok, tangan menengadah. Lantunan doa terdengar pelan. “Saya datangi dan duduk melingkar bersama mereka. Ikut mengamini doa mereka,” tulis Anies lewat unggahannya  di akun Facebooknya, Jumat (16/7/2021)

Usai doa, ibu berkerudung bercerita, “Ini makam Ayah. Kalau makam Emak di sebelah sana,” sambil menunjuk sisi barat, 50-an meter jaraknya. Di makam Ibunya, juga sedang dikelilingi cucu dan anggota keluarga lain.

Di depan Anies, ibu itu bercerita sambil mengeluarkan air mata. Kerudung merah yang dipakai berulang kali digunakan untuk membasuh pipinya yang basah. Peziarah tersebut kehilangan ayah dan ibunya karena Covid-19. Kuburan orang tua mereka tidak berjarak jauh.

 “Yang berat tu, Pak, kami nggak bisa nemenin di akhir-akhir Ayah. Nggak bisa ngebimbing. Nggak bisa mandiin. Kami cuma bisa ke sini sesudah Ayah dikubur,” kata Anies menirukan pernyataan lelaki berjaket ojol tersebut. Ia anak sulung. Lelaki berjaket ojol, dia adiknya.

Tak lama kemudian, mereka pindah ke kubur ibunya. Anies menyusul. "Saat mendekat, terdengar suara lembut lantunan ayat suci Al Quran. Kami menyimak, sampai ia selesai. Terucap amin berulang kali. Tangan kanan memegang kitab di dada dan tangan kiri membasuh muka," tutur Anies.

Setelah selesai melantunkan doa, mereka bergeser ke makam ibunya yang terletak sekitar 50 meter. Anies mendengar suara lembut lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan oleh cucu dan anggota keluarga lainnya. Ia ikut merapal. Menggambarkan suasana itu, Anies menulis: Semua mata berkaca-kaca.

“Emak meninggal. Seminggu kemudian Ayah nyusul. Padahal sebelumnya mereka sehat-sehat aja. Terus batuk, sesek, waktu diperiksa ternyata covid,” ungkap Anies mengulang lirih peziarah.

 “Kalau kamis sore kami ke sini, Pak. Ngaji tiap malam jumat di makam Emak & Ayah. Kami menemin. Cuma ini yg bisa dilakuin, Pak. Ngedoain aja terus.” tutur mereka dalam sendu. Semua mata berkaca-kaca.

Anies berharap, certa ini bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat luas. Angka kematian Covid-19 di Jakarta sekecil apapun bukanlah sekadar data belaka. Tiap individu yang wafat memiliki keluarga dan orang terdekat yang menyayangi mereka.

“Jangan pernah anggap laporan kematian itu sekadar angka. Kemarin para petugas Distamhut menguburkan 281 jenazah, itu adalah kisah pilu ribuan keluarga. Orang tercinta yang sebulan lalu masih bugar & bahagia. Semua berubah,” pesan Anies.

Anie mengakui, saat masuk ke pemakaman para syuhada ini terasa pangling. Hanya dalam hitungan hari, hamparan tanah lapang itu berubah jadi deretan kuburan yang amat banyak.

Untuk itu, Anies mengimbau, kurangi bepergian jika tidak ada urusan mendesak. Jangan anggap covid sepele, seakan hanya ada di berita. Anies mengaku sudah jadi saksi begitu banyak yang mengentengkan covid, lalu dalam hitungan hari berubah duka.

“Mari kita saling lindungi keluarga, diri kita dan lingkungan. Taati protokol kesehatan, jaga keselamatan sesama. Jangan lewat selalu panjatkan doa: Ya Allah, Ya Rahman, hanya kepada-Mu Kami memohon pertolongan, hanya kepada-Mu kami memohon perlindungan,” pungkasnya.