Prof Rokhmin Dahuri: Kemiskinan Merupakan Masalah Utama Stunting

husnie | Sabtu, 17 Juli 2021 - 08:13 WIB

Prof Rokhmin Dahuri: Kemiskinan Merupakan Masalah Utama Stunting FOTO : Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS


JAKARTA, (otonominews) – Pakar Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS mengatakan, bahwa kondisi Stunting atau kurang gizi kronis di Indonesia sangat ironis, mengingat potensi sumber gizi yang melimpah yaitu dari sector perikanan dan kelautan.

“Komoditas dan produk perikanan mengandung nilai nutrisi dan gizi yang sangat baik bagi kesehatan dan kecerdasan manusia dimana Indonesia memiliki  potensi produksi perikanan lestari terbesar di dunia, sekitar 115,3  juta ton/tahun, dan baru dimanfaatkan sekitar 30%,” ujar Prof Rokhmin lewat akun instagram pribadinya @Rokhmindahuriid, Jumat (16/7/2021).

“Kita tahu bahwa stunting mengakibatkan penderitanya berfisik lemah, rentan sakit, dan rendah kecerdasannya (lost generation),” sambung Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu.

Bonus demografi pada 2021-2030, paparnya, bisa menjelma jadi malapetaka demografi sehingga Indonesia terjebak sebagai Negara berpendapatan menengah (middle-income trap), alias gagal menjadi Negara maju, adil-makmur, dan berdaulat pada 2045.

“Angka stunting di Indonesia mencapai  27,7%. Padahal berdasarkan acuan WHO (Badan Kesehatan Dunia PBB-red), batas amannya maksimum 20%,” tuturnya.

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia menjelaskan, masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting lebih dari 20 persen, dan prevelensi di Indonesia saat ini 27,7%. “Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 18 provinsi yang prevalensinya melebihi angkat nasional,” ucapnya.

Lebih lanjut Prof. Rokhmin menerangkan, wasting dan stunting diprediksi meningkat akibat Covid-19 karena krisis ekonomi, berkurangnya akses terhadap makanan dan gangguan layanan kesehatan.

“Tanpa tindakan yang cukup dan tepat waktu, jumlah anak wasting diprediksi akan meningkat sebanyak 15% (7 juta anak) di seluruh dunia pada setahun pertama pandemic Covid-19 sebagaimana data Unicef Headquarter 2020,” pungkas Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia periode 2001 – 2004 itu.