Bantah Disebut Angka Kematian Solo Tinggi, Gibran: Kebanyakan dari Luar Solo

hen | Jumat, 30 Juli 2021 - 09:20 WIB

 Bantah Disebut Angka Kematian Solo Tinggi, Gibran: Kebanyakan dari Luar Solo FOTO : Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan.(ist)


SOLO (Otonominews.co.id) – Angka kematian akibat Covid-19 di Kota Solo Jawa Tengah terhitung tinggi. Akibatnya, kota dipimpin Gibran Rakabuming Raka ini pun menjadi sorotan Kementerian Kordinator Maritim dan Investasi (Kemenkomarves). 

Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan menegur putera sulung Presiden Joko Widodo tersebut.

Gibran langsung menepis disebut angka kematian Covid-19 di wilayahnya tinggi. Angka kematian, ditegaskannya kebanyakan berasal dari pasien Covid-19 luar kota.

"Saya sudah menjelaskan kepada Pak Luhut, bahwa angka kematian di Solo tinggi karena menerima pasien dari luar kota juga," katanya pada Kamis (29/7/2021).

"Apabila dibandingkan, pasien dari Solo dan dari luar, kematian lebih tinggi dari yang luar Solo," ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, bahwa rumah sakit di Solo tidak menolak pasien dari luar kota, apapun alasannya.

"Kita tidak mungkin menolak pasien, jadi kalau ada yang datang pasti diterima, bahkan dari luar Solo Raya, hingga Jawa Timur juga ada," jelasnya.

Gibran menambahkan sebagian besar angka kematian berasal dari pasien yang belum mendapatkan vaksin.

"Mereka kebanyakan belum vaksin sehingga anti bodinya lemah," ujarnya.

Terkait warga yang terpapar covid-19 ini, sebelumnya, Luhut Binsar Pandjaitan mengimbau Pemda melakukan sosialisasi kepada warga untuk menempati isolasi terpusat yang telah disediakan.

Imbauan tersebut ia sampaikan lantaran tren kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Solo Raya dan Provinsi DI Yogyakarta masih meningkat.

Luhut pun meminta TNI dan Polri untuk membujuk pasien Covid-19, khususnya lansia dan penderita dengan riwayat penyakit komorbid (penyerta) untuk dirawat di isolasi terpusat.

“Saya minta kepada TNI dan Polri agar dapat membujuk pasien-pasien khususnya lansia dan penderita yang memiliki penyakit komorbid (penyerta) agar dirawat di isolasi terpusat sehingga dapat dipantau dan mendapatkan pasokan oksigen yang cukup,” katanya.

“Tanpa penguatan di hulu, kapasitas respon di sektor hilir akan full dan menyebabkan peningkatan angka kematian,” lanjut Luhut.

Diketahui, Provinsi DI Yogyakarta mencatat tren kasus positif dan angka kematian yang masih tinggi. Namun, indeks mobilitas di Provinsi itu sudah mulai menurun seiring dengan penurunan mobilitas dan aktivitas masyarakat yang terjadi dalam dua pekan terakhir.