BKSAP: Kehadiran Puan di Austria Tunjukkan DPR RI Siap Jadi Tuan Rumah 2022

husnie | Selasa, 07 September 2021 - 11:32 WIB

BKSAP: Kehadiran Puan di Austria Tunjukkan DPR RI Siap Jadi Tuan Rumah 2022 FOTO : Anggota BKSAP DPR RI Irine Yusiana Roba Putri


JAKARTA, (otonominews) -- Perjalanan resmi Ketua DPR RI Puan Maharani ke Austria tak hanya sekedar menghadiri Fifth World Conference of Speakers of Parliament (5WCSP) yang diselenggarakan oleh Inter-Parliamentary Union (IPU). 

Kehadiran Puan juga dalam rangka persiapan Indonesia menjadi tuan rumah salah satu agenda forum Para Ketua Parlemen se-Dunia itu tahun depan.

“Urgensi kehadiran langsung Ibu Ketua DPR RI ke forum ketua-ketua parlemen dunia di Wina, Austria, bukan hanya sekedar meluaskan jejaring. Ada beberapa agenda penting yang dibawa Ibu Puan di forum 5WCSP,” kata anggota Badan Kerjasama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Irine Yusiana Roba Putri di Jakarta, Selasa (7/9/2021).

Irine mengatakan, salah satu agenda penting Puan dengan hadir langsung di forum yang digelar organisasi internasional beranggotakan parlemen-parlemen dari negara-negara berdaulat itu adalah dalam kerangka menggalang dukungan dan partisipasi aktif di gelaran First Global Parliamentary Meeting on Achieving SDGs pada akhir September 2021 di Jakarta. Pertemuan tersebut merupakan agenda kolaborasi DPR RI dengan IPU.

Lawatan Puan di negara Eropa Tengah itu juga untuk menyaksikan penandatanangan MOU Keketuaan Indonesia pada IPU General Assembly di Bali yang akan diselenggarakan pada Maret 2022. Indonesia akan menjadi tuan rumah pada forum yang akan membahas berbagai isu penting dunia tersebut.

“Tahun depan kan kita host, jadi tidak elok kalau kita tidak undang para Ketua Parlemen secara langsung. Karena ini seperti memberi kepercayaan ke dunia juga, kita siap untuk jadi host,” sebut Irine.

Forum 5WCSP yang digelar pada 6-8 September 2021 dan dihadiri oleh 98 ketua parlemen dunia itu dinilai merupakan ajang strategis dalam upaya diplomasi vaksin internasional. 

Irine mengatakan, forum ini menjadi kesempatan networking antara ketua-ketua parlemen sedunia sebagai upaya diplomasi kesetaraan distribusi vaksin untuk pemulihan pandemi Covid-19.

“Harus bisa dilihat bahwa kesempatan bicaranya yang priority. Kehadiran Ibu Ketua DPR RI untuk menyampaikan pesan Indonesia kepada para pemimpin dunia secara langsung,” ujar Irene.

Tak hanya itu, lanjut Irene, Puan datang ke Austria juga sekaligus untuk mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para Ketua Parlemen Perempuan se-Dunia.

Irine mengatakan, mantan Menko PMK tersebut akan mengikuti 13th Summit of Women Speakers of Parliament.

“KTT Ketua-ketua Parlemen Perempuan ini merupakan agenda penting yang sangat diperhitungkan di kancah dunia,” tutur anggota DPR RI dari Dapil Maluku Utara itu.

Summit of Women Speakers of Parliament atau KTT para Ketua Parlemen Perempuan merupakan forum yang diadakan satu tahun sekali atas inisiasi IPU, yang bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pertemuan ke-13 forum tersebut sedianya digelar pada Agustus 2020, namun tertunda karena pandemi Covid-19.

“Dan di 13th Summit of Women Speakers of Parliament inilah pertama kalinya DPR RI terpilih menjadi anggota Preparatory Committee untuk menyiapkan sidang Ketua Parlemen Perempuan tersebut,” ucap Irine.

Puan terpilih menjadi anggota Preparatory Committee dalam sidang 206th Governing Council pada November 2020 mewakili Group Asia-Pasific IPU. 

Menurut Irine, keanggotaan Indonesia pada Preparatory Committee menjadi kesempatan besar bagi DPR RI untuk menyampaikan kepentingan nasional dalam sidang bertajuk Women at the centre: From confronting the pandemic to preserving achievements in a gender-responsive recovery itu.

“Kehadiran Ibu Ketua DPR RI sangat penting karena beliau sudah ikut menyiapkan penyelenggaraan 13th Summit of Women Speakers of Parliament dalam 5 kali rapat Preparatory Committee,” jelas anggota Komisi I DPR RI ini.

Pada setiap rapat Preparatory Committee, Puan disebut menekankan sinergi dan kolaborasi parlemen di seluruh dunia dalam upaya pencapaian pengarusutamaan kesetaraan jender, baik laki-laki maupun perempuan.

“Meskipun pada akhirnya persidangan mengadopsi format ‘Doha Debate’ yang melakukan voting terkait suatu isu, Ibu Ketua DPR RI telah mengusulkan agar menghindari penggunaan voting pada akhir setiap sesi. Hal ini penting agar seluruh delegasi merasa memiliki ‘ownership’ terhadap setiap keputusan yang diambil,” terang Irine.

KTT Ketua Parlemen Perempuan ini bukan merupakan side-event meskipun diselenggarakan bersamaan dengan 5WCSP. 

Irine mengatakan, 13th Summit of Women Speakers of Parliament adalah sidang yang berdiri sendiri dan forum penting bagi para Ketua Parlemen perempuan untuk berbagi ide dan gagasan, serta praktik cerdas di masing-masing negara.

“Sudut pandang para ketua Parlemen perempuan akan memperkaya pemahaman mengenai tantangan nyata yang dihadapi kaum perempuan khususnya. Tidak hanya dalam politik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Puan.
 
Di 5WCSP, Puan pun memiliki andil cukup besar karena menjadi pembicara pada General Debate pertama dengan tema terkait keseimbangan pembangunan ekonomi, lingkungan, dan sosial.

Puan didaulat sebagai keynote speaker dalam dialog interaktif bertema ‘Achieving sustainable development requires more attention on human wellbeing and environmental preservation than on economic growth’c yang dimoderatori oleh jurnalis dan komentator politik Deutsche Welle, Melinda Crane-Rohrs.

Selain itu, Puan juga akan mengikuti sejumlah pertemuan bilateral di sela-sela kunjungannya ke Wina. 

Ketua DPR perempuan pertama Indonesia tersebut akan mengadakan pertemuan dengan ketua parlemen Timor Leste, Vietnam, Austria, dan Presiden IPU, Duarte Pacheco untuk membahas kerja sama ekonomi, kerja sama penanganan dan pencegahan Covid-19, pengembangan teknologi vaksin, serta berbagai isu kawasan yang menjadi perhatian bersama.