Kanjeng Senopati: Rapuhnya Pertahanan Nasional Saat Ini

Husnie | Minggu, 12 September 2021 - 08:16 WIB

 Kanjeng Senopati: Rapuhnya Pertahanan Nasional Saat Ini FOTO : Kanjeng Senopati


Oleh: Kanjeng Senopati *)

SURAKARTA, (otonominews) -- Perspektif sistem pertahanan Nasional tergantung dari sistem kondisi ancaman musuh. Baik musuh dari luar maupun musuh yang sudah berada di dalam !

Tupoksi Tugas Pokok dan Fungsi TNI dalam keadaan damai adalah latihan untuk siap melaksanakan Operasi Militer dari ancaman musuh dari dalam (para musang penghianat) karena akan berimplikasi pada ancaman "perang terbuka" musuh dari luar.

Harus dipahami dimutilasinya dipecah-pecahnya TNI POLRI yang dari awal satu Komando, merupakan keberhasilan peranan kelompok radikal kiri Sipilis (Sekulerisme, Pluralisme, Liberalisme dan Syiah'nisme) yang menyusup kedalam barisan reformasi.

Kasus di Papua  beberapa minggu ini sudah genap ratusan anggota TNI yang gugur, jumlah fantastis yang tidak pernah ada di jaman orde baru.

Korban yang gugur dari selevel tamtama, bintara, pamen sampai pada tingkat level pati atau Jenderal belum genap satu tahun, lengkap sudah jadi mangsa OPM.

Terbunuhnya seorang Jenderal TNI sebagai komandan tertinggi beberapa waktu lalu dalam suatu operasi di Papua sudah merupakan tamparan keras dan pedang terhunus bagi TNI.

Dan masih terus saja disusul sampai hari ini "pembantaian" terhadap TNI. TNI hanya menjadi bulan-bulanan mangsa KST (Kelompok Sparatis Teroris) OPM. Ini di jamannya presiden Soeharto Papua sudah ditetapkan sebagai DOM (Daerah Operasi Militer).

TNI berkali-kali dibokongi  oleh para monyet-monyet GPK Gerakan Pengacau Keamanan atau KST Kelompok Sparatis dan Teroris OPM Papua TNI bagaikan sasaran buruan para monyet OPM.

Ini menunjukkan lemahnya pemimpin tertinggi TNI mengakibatkan rapuhnya Pertahanan Nasional kita, TNI sedang sakit dan mandul sadar atau tidak TNI sedang dikebiri dan dimutilasi.

Karena kenapa? Karena "elite global lokal " para oligator itu tidak menyukai jika TNI kuat. Karena jika TNI kuat maka rakyatpun akan kuat dan dinasti merahpun bakal terancam akan digulung tikar.

Padahal semakin hari kesini ancaman musuh semakin nyata didepan mata, TNI harus tanggap dan berani untuk bersikap, bergerak dan bertindak terhadap ancaman yang akan ditimbulkan dari dalam maupun dari luar.

Walaupun kondisi pemerintah dalam keadaan apapun TNI tetap TNI sebagai Tentara rakyat, sebagai Tentaranya Negara bukan Tentaranya Penguasa.

TNI itu adalah tentara rakyat sebagai tentara profesional yang bertugas sebagai abdi rakyat dan abdi Negara bukan sebagai abdi penguasa, ingat itu !

Sebenarnya rakyat sedang menunggu keberanian dan patriotisme para pemimpin prajurit TNI untuk berani berjibaku, bersikap dan berbuat demi menyelamatkan rakyat dan negara !

Rakyat kita sedang menunggu sikap nyata dari TNI dalam upaya menghentikan ancaman sparatisme dan ancaman terhadap kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.

Ingat, kekuatan TNI terletak pada Kemanunggalan dengan rakyat untuk menghandapi setiap ancaman dari luar maupun ancaman dari dalam negeri.

Ancaman makar ideologi dan menghentikan kekuatan asing Cina yang menciptakan otoriterian penguasa dan sedang condong 'ke kiri', harus diakui ini !

TNI terlambat bersikap dan berbuat diprediksi akan terjadi konflik horisontal, vertikal dan perang saudara dan membiarkan NKRI menjadi bagian jajahan asing endingnya kedaulatan NKRI bubar hamcur berkeping-keping.

Tunjukkan, TNI memiliki Tupoksi sebagai Tentara profesional sebagai Leader, Pelopor, Stabilisator dan Dinamisator terdepan dalam mengawal negara yang memiliki peluru, senjata berat dan pasukan perang.

TNI bukan pasukan yang ikut larut dan sibuk sebagai pasukan "pembantu" Polri dan Satpol PP yang berada dibelakang tupoksi mereka sampai melupakan tupoksi TNI sendiri.

TNI harus fokus menjalankan tupoksi TNI sebagai leader terdepan sebagai benteng pertahanan menyelamatkan rakyat dan kedaulatan negara. Ingat terdepan, bukan disamping dan bukan dibelakang !

TNI tidak boleh mengenal tabu dan pekewuh bila demi menyelamatkan keutuhan wilayah NKRI.

Para senior TNI telah memberikan contoh tauladan sebagai Pejuang, berani untuk berdialog, berdiskusi bersikap mengkritisi dan berjibaku terhadap kebijakan pemerintah yang dapat membahayakan keselamatan, kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI.

Panglima Besar Jenderal Sudirman memilih bersikap dan berani berjibaku memimpin gerilya, melawan penjajah Belanda daripada mengikuti perintah Presiden Soekarno untuk menyerah terhadap penjajah Belanda. Dan Soeharto berani berjibaku melawan kebijakan presiden Soekarno yang sangat membahayakan kedaulatan dan ideologi negara karena sudah condong ke kiri Komunis.

TNI harus mempunyai sikap apapun resikonya untuk siap perang bisa jadi mengawali genderang perang Asia Pasifik sebelum ditabuh.

*) Putro Dalem Mataram Surakarta Hadiningrat