Stanislaus: Prediksi Dampak Ditangkapnya Petinggi Jamaah Islamiyah

Husnie | Senin, 13 September 2021 - 09:01 WIB

Stanislaus: Prediksi Dampak Ditangkapnya Petinggi Jamaah Islamiyah FOTO : Pengamat Intelijen dan Keamanan Negara, Stanislaus Riyanta


Oleh: Stanislaus Riyanta *)

JAKARTA, (otonominews) -- Densus 88 Polri menangkap Thoriqudin alias Abu Rusydan alias Hamzah di Bekasi Jumat (10/9/2021) lalu. Abu Rusydan  adalah tokoh senior JI yang selama ini berkeliling Indonesia menjadi penceramah dan motivator agama. Narasi-narasi yang disampaikan oleh Abu Rusydan dengan mudah dapak diakses di media sosial. Abu Rusydan sebelumnya pernah menjalani hukuman karena kasus terorisme. Pada tanggal 25 Februari 2004, Abu Rusydan diputus bersalah dalam perkara terorisme dengan hukuman penjara 3 tahun enam bulan sesuai dengan putusan pengadilan No: 1395/PID.B/2003/PN.JKT.SLT. 

Jejak Abu Rusydan sebagai tokoh senior dari kelompok Jamaah Islamiyah cukup kuat. Abu Rusydan adalah alumnus Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Beberapa informasi menyebutkan bahwa Abu Rusydan bersama-sama  dengan Abdullah Sungkar, Zulkarnaen, Abu Bakar Ba’asyir ketika berada di Afghanistan banyak dipengaruhi oleh Abdullah Azzam, pendakwah sekaligus pejuang dari Palestina yang kemudian dikenal sebagai penggerak jihad di Afghanistan. Abu Rusydan adalah pemberi pengantar pada buku Tarbiyah Jihadiyah karya Abdullah Azzam edisi Indonesia.

Abu Rusydan diyakini mempunyai peran penting dalam organisasi Jamaah Islamiyah. Setelah Abu Bakar Ba’asyir ditangkap, kepemimpinan Jamaah Islamiyah dilanjutkan oleh Para Wijayanto. Di bawah kepemimpinan Para Wijayanto inilah Jamaah Islamiyah mengubah gerakannya fokus kepada pendidikan, pelatihan, dakwah, dan penggalangan dana. Nyaris tidak ada aksi-aksi kekerasan yang dilakukan oleh Jamaah Islamiyah. Pasca Para Wijayanto ditangkap, Abu Rusydan yang diduga melanjutkan kepemimpinan Jamaah Islamiyah, dengan tetap menggunakan cara-cara dakwah, pendidikan, pelatihan dan penggalangan dana. Bahkan Abu Rusydan secara terbuka melakukan dakwah melalui kanal media sosial. 

Pasca penangkapan Abu Rusydan maka Jamaah Islamiyah akan tetap bergerak dengan amir yang baru, akan ada perubahan struktur kepemimpinan, namun pola pergerakan organisasi diperkirakan tidak akan berubah, masih tetap dengan pendekatan dakwah, pendidikan, pelatihan dan penggalangan dana, tidak dengan cara-cara kekerasan Dugaan akan ada aksi balas dendam berupa teror justru diperkirakan sangat kecil peluangnya terjadi. Hal ini sudah dibuktikan pasca penangkapan Abu Bakar Ba’asyir dan Para Wijayato yang merupakan amir Jamaah Islamiyah, yang terjadi adalah pergantian amir dan tetap melanjutkan aktivitas organisasi tanpa menggunakan kekerasan. Aksi kekerasan saat ini justru akan merusak startegi jangka panjang Jamaah Islamiyah.

Ancaman dari Jamaah Islamiyah adalah jangka panjang. Selama lebih dari dua dekade Jamaah Islamiyah melakukan pengkaderan termasuk mengirim anggotanya ke daerah konflik seperti di Afghanistan dan Suriah, melakukan dakwah, penggalangan dana bahkan membangun unit bisnis, bahkan terlibat dalam aksi-aksi politik adalah untuk tujuan jangka panjang. Jamaah Islamiyah juga melakukan infiltrasi ke pihak lain, maka jangan terkejut jika terjadi penangkapan karyawan BUMN karena menjadi bagian dari Jamaah Islamiyah. 

Jamaah Islamiyah adalah organisasi dengan strategi jangka panjang. Ketika nanti momentumnya telah tiba, dan Jamaah Islamiyah telah merasa siap untuk beraksi maka itulah ancaman sesungguhnya yang dampaknya akan serius jika tidak dideteksi dan dicegah sejak dini. Langkah Densus-88 melakukan penangkapan terhadap petinggi dan anggota Jamaah Islamiyah saat ini adalah langkah tepat, karena akan mencegah ancaman serius terhadap keamanan nasional terjadi di waktu mendatang.

*) Pengamat intelijen dan terorisme