Prof Rokhmin Dahuri: Seharusnya Sumber Daya Kehati Dimanfaatkan Untuk Kemajuan Bangsa Indonesia

Husnie | Selasa, 14 September 2021 - 20:44 WIB

Prof Rokhmin Dahuri: Seharusnya Sumber Daya Kehati Dimanfaatkan Untuk Kemajuan Bangsa Indonesia FOTO : Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS (kanan)


JAKARTA, (otonominews) – Indonesia adalah negara dengan sumberdaya keanekaragaman hayati (Kehati) terbesar di dunia dan terrestrial biodiversity terbesar ketiga di dunia. seharusnya sumber daya kehati beserta industri hulu dan hilir nya menjadi leading sectors dan prime mover perekonomian nasional, Kehati tersebut dimanfaatkan semakminal mungkin untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Seperti pengangguran, kemiskinan, stunting, gizi buruk, dan IPM rendah.

Demikian dikatakan Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS., Menteri Kelautan dan Perikanan Periode Tahun 2001-2004 saat menjadi narasumber Forum Diskusi “Morning Mind Cloud Idea (Momi Cloudia)" Seri 9 dengan tema: “Good Governance on Managing Marine Biodiversity and Biotechnology: Lessons from Experience” yang diadakan oleh Seameo Biotrop, Bogor, Selasa (14/9/2021).

“Seharusnya semangat akselerasi terwujudnya Indonesia maju adil dan makmur kalau kita kelola. Menterinya, para bupati orang yang berpengetahuan kerja keras, ikhlas dan berakhlak mulia Indonesia tidak perlu seperti sekarang masih 3870 pendapatan perkapita perorangnya,” ujar Prof Rokhmin.

Kemudian, Prof Rokhmin memaparkan, kendati secara volume produksi hampir semua sektor sumber daya Kehati  meningkat, namun kesejahteraan pelaku usaha seperti petani, nelayan dll, kebanyakan masih rendah.

“Bahkan Indonesia menjadi salah satu pengimpor terbesar di dunia. Sebanyak 90 Persen bahan baku dan bahan penolong industri farmasi masih impor, dan daya saing produk jasa sumber daya Kehati  masih relatif rendah,” kata ketua umum Masyarakat Akuakultur Indonesia itu

Prof Rokhmin mengemukakan, banyak faktor yang menyebabkan kinerja sektor sumber daya Kehati belum optimal.  Salah satu yang terpenting adalah belum maksimalnya kontribusi litbang (R & D) terhadap industri hulu-hilir sumber daya Kehati. Terutama scaling-up (hilirisasi) dari invention (prototipe) hasil R & D menjadi inovasi berupa komoditas baru, produk baru, teknologi proses baru, bahkan marketing strategy baru, untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor.

“Lihat sayur-sayuran dan buah-buahan 70 persen sudah impor, tapi Alhamdulillah di bidang perikanan surplus perdagangan 90 persen. Tahun lalu nilai ekspor perikanan kita 5,2 Milyar USD, tapi impornya 300 juta, kita masih surplus 4,9 billion,” ungkap Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University itu. Namun, tambahnya, dengan pertambahan penduduk dan daya beli masyarakat, maka dirinya punya keyakinan permintaan terhadap komoditas dan produk sumber daya kahati akan semakin berlipat ganda.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Rokhmin secara spesifik mengupas ruang lingkup dan peluang sunberdaya kehati dan bioteknologi kelautan untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. “Bioteknologi kelautan adalah teknik penggunaan biota laut atau bagian dari biota laut (seperti sel atau enzim) untuk membuat atau memodifikasi produk, memperbaiki kualitas genetik atau fenotip tumbuhan dan hewan, dan mengembangkan (merekayasa) biota laut untuk keperluan tertentu, termasuk perbaikan lingkungan,”  ujar Prof. Rokhmin mengutip  Lundin and Zilinskas  (1995).

Prof Rokhmin Dahuri menyebutkan, setidaknya ada empat domain industri bioteknologi kelautan. Pertama, ekstraksi senyawa bioaktif (bioactive compounds/natural products) dari biota laut untuk bahan baku bagi industri nutraseutikal (healthy food & beverages), farmasi, kosmetik, cat film, biofuel, dan beragam industri lainnya.

Kedua, genetic engineering untuk menghasilkan induk dan benih ikan, udang, kepiting, moluska, rumput laut, tanaman pangan, dan biota lainnya yang unggul.

Ketiga, rekayasa genetik organisme mikro (bakteri) untuk bioremediasi lingkungan yang tercemar. “Dan keempat aplikasi bioteknologi untuk konservasi,” tutur Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2020-2024.

Prof Rokhmin merekomendasikan perbaikan governance SEAMEO Biotrop.  Pertama, setiap aktivitas BIOTROP harus ditujukan untuk: (1) memecahkan permasalahan bangsa dan dunia saat ini maupun di masa depan; (2) pendayagunaan potensi pembangunan (SDA, SDM, dan posisi geoekonomi) bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa; dan (3) sesuai dengan kebutuhan pasar dan dinamika pembangunan (market and development-oriented research).

“Output BIOTROP semacam ini pasti layak publikasi di jurnal ilmiah nasional maupun internasional,” kata Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University.

Kedua, para peneliti harus meningkatkan kapasitasnya agar mampu menghasilkan hasil riset yang inovatif dan sesuai kebutuhan konsumen (pasar) di dalam maupun luar negeri: invensi yang mencapai technological readiness.

Ketiga, para peneliti (BIOTROP) harus melibatkan (bekerjasama dengan) pihak industri (users) dan pemerintah sejak tahap perencanaan, implementasi, industrialisasi (scaling up) sampai pemasaran hasil R & D.

Keempat, pemerintah harus menyediakan infrastruktur, sarana, dan anggaran (> 3% PDB) penelitian yang mencukupi; serta memberikan kesejahteraan dan penghargaan kepada para peneliti seperti halnya (benchmarking) di negara-negara maju atau emerging economies lainnya yang lebih maju dan makmur.

“Pemerintah dan masyarakat menjamin kesejahteraan serta lebih menghargai peneliti, ilmuwan, dosen, dan guru sebagaimana di emerging economies yang lebih maju atau di negara industri maju dan kaya,” ujar Prof Rokhmin Dahuri.

Kelima, pihak industri (swasta nasional dan BUMN) harus meningkatkan jiwa nasionalismenya, sehingga dalam menggunakan teknologi tidak semata berdasarkan pada pertimbangan financial cost and benefit.  “Mereka harus mau mengembangkan teknologi nasional dari hasil riset tahap prototipe (invensi) bangsa sendiri,"  terangnya.

Ketujuh, MNC (Multi National Corporation) diwajibkan melakukan transfer teknologi dan mengindustrikan (komersialkan) invensi peneliti nasional dengan melibatkan (mempekerjakan) peneliti, dosen, dan mahasiswa di perusahaan (industri) nya, seperti di Singapura, Korea, dan China.

“Pemerintah memberikan insentif (seperti tax deduction dan bebas biaya impor untuk state of the art technology) dan penghargaan bagi swasta (industri) yang mau mengindustrikan invensi  peneliti nasional,” sebutnya.

Prof Rokhmin juga menegaskan pentingnya peningkatan kerja  sama yang lebih produktif dan sinergis antarpara peneliti dan lembaga R & D di Perguruan Tinggi, LIPI, BPPT, Kementerian, dan swasta. “Tidak kalah pentingnya, transfer (curi) teknologi dari negara-negara maju atau MNC (Multi National Corporations), seperti melalui reverse engineering,” sebut Ketua Dewan Pakar MPN (Masyarakat Perikanan Nusantara) itu.