Kepala BNPT Minta Semua Pihak Waspadai Aksi Teror Saat PON Papua Berlangsung

Husnie | Kamis, 16 September 2021 - 05:39 WIB

Kepala BNPT Minta Semua Pihak Waspadai Aksi Teror Saat PON Papua Berlangsung FOTO : Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI,


JAKARTA, (otonominews) -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengingatkan, untuk meningkatkan kewasapadaan serangan terorisme saat penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua, sebab, aksi-aksi terorisme berpotensi terjadi jika pihak keamanan lengah dan tak melakukan tindakan pencegahan. 

Hal itu disampaikan Boy dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR RI, Rabu (15/9/2021). 

"Berkaitan dengan kegiatan pelaksanaan yang akan dilaksanakan yaitu PON di Papua pada tanggal 2 sampai 15 Oktober mendatang, kami juga tentu berkoordinasi terus dengan jaringan intelijen yang ada," kata Boy. 

"Dalam upaya agar pelaksanaan PON bisa berjalan ini kita telah memberikan masukan untuk senantiasa meningkatkan kewaspadaan karena serangan terorisme dalam PON itu adalah sebuah keniscayaan," lanjut alumnus Akpol 1988 tersebut. 

Boy menjelaskan, potensi aksi teror di Papua bisa terjadi. 

Dirinya mengingatkan kembali  pernah terjadi penangkapan terhadap 11 orang di Merauke yang diduga berafiliasi dengan ISIS. 

"Belum lagi, aksi-aksi kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata yang hingga saat ini masih terjadi di bumi Cendrawasih. Kita tentu tidak ingin dipermalukan dengan aksi-aksi itu," tegas Boy.

"Kami BNPT memberikan masukan kepada petugas penanggung jawab bidang keamanan dan besok pun masih dibahas kembali bersama bapak Menkopolhukam, rencananya pada Jumat siang," imbuh Boy.

Konten Radikalisme Terbanyak di Telegram

Boy mengungkapkan, BNPT melakukan pemantauan di sejumlah platform media sosial. Hal itu guna mencegah konten yang berbau dengan radikalisme dan terorisme.

Boy mengungkapkan, terdapat empat platform media sosial yang fokus diawasi oleh BNPT.

"Empat platform tersebut adalah Telegram, Whatsapp, Facebook, dan TamTam," ungkap mantan Kapolda Papua ini.

Boy melanjutkan, sampai bulan Agustus 2021, pihaknya sudah menemukan 399 group ataupun kanal media sosial yang dipantau, di mana konten radikalisme dan terorisme terbanyak berada di media sosial Telegram dengan mencapai 135 group kanal.

"Per Agustus 2021 terdapat 399 grup maupun kanal medsos yang dipantau dan Telegram menempati jumlah tertinggi dengan mencapai 135 grup kanal," ujar Boy.

Lebih lanjut, mantan Kadiv Humas Mabes Polri ini menegaskan, saat ini proses penurunan atau penghapusan konten tersebut sedang dilakukan.

"BNPT bekerja sama dengan Ditjen Aptika Kementerian Kominfo untuk konten media sosial, sedangkan yang berkaitan dengan cyber crime tentunya bersama dengan unsur-unsur penegak hukum di Polri," pungkas Boy Rafli Amar.