Kanjeng Senopati: Dalam Politik Tidak Ada Teman Abadi dan Musuh Abadi

husnie | Sabtu, 06 November 2021 - 14:31 WIB

Kanjeng Senopati: Dalam Politik Tidak Ada Teman Abadi dan Musuh Abadi FOTO : Kanjeng Senopati


Oleh: Kanjeng Senopati *)

SURAKARTA, (otonominews) -- Didalam sistem negara demokrasi tidak ada teman abadi dan musuh abadi, tapi yang ada adalah Kepentingan Abadi.

Didalam negara Indonesia yang menganut sistem republik demokrasi maka yang ada terjadi adalah Politics is interest. (politik adalah kepentingan).

Dan didalam sistem republik demokrasi tidak akan mungkin tercipta Our ideology is our principle (ideologi kita adalah prinsip kita) itu adalah bulshit..!

Karena menurut saya Politik itu sendiri bersifat dinamis, tidak harus idealis saklek atau kaku tapi harus fleksibel. Ingat dalam dunia "politik demokrasi" tidak ada teman abadi ataupun musuh abadi, yang ada adalah "Kepentingan abadi".

Tidak ada seorangpun yang pernah mengira bahwa yang tadinya rival (musuh politik) nanti bisa saja jadi teman, sebaliknya sekarang jadi teman suatu saat bisa menjadi musuh rivalnya.

Kita lihat Fadli Zon dia dulu adalah relawan militan berat Jokowi Ahok, sekarang? Sekarang penentang terberat Jokowi cs.

Lihat PAN dan Golkar dulu adalah anti Jokowi sekarang? Sekarang pendukung koalisi terkuat Jokowi.

Lihat masa lalu Ngabalin dan TGB (Tuan Guru Bajang) dulu sangat terkenal pro Prabowo, sekarang?

Begitulah jika kita mengikuti laju fragmen politik di negara dsmokrasi yang dinamis, pastinya akan disuguhkan dengan berbagai drama  manuver-manuver oleh para aktor politik.

Tidak komitmennya atau perubahan karakter aktor politik itu dapat terjadi karena adanya TIGA faktor.

Yaitu Dua faktor karena demi kepentingan mendapatkan kekuasaan dan karena demi mendapatkan perlindungan hukum bagi pribadinya.

Dan 1 faktor karena ketidaknyamanan. Ini berurusan dengan akal sehat dan hati nuraninya. Bila yang dibela dinilai sudah salah arah dan menyalahi visi misi dan prinsip ideologi, agama dan kemanusiaan atau bertentangan dengan prinsip pribadinya atau hati nuraninya.

Seperti misal yang terjadi pada partai PPP sekarang pendukung Jokowi. Menyebabkan banyak para kader yang militan partai tsb resign keluar dari  PPP.

PPP telah menggadaikan azas visi misi partai sebagai partai yang membawa warna Islam berubah menjadi pendukung kelompok Sosialis Sekuler pendukung PDIP dan underbownya.

Bisa saja terjadi Jokowi secara pribadi meninggalkan PDIP dan Megawati merapat ke kubu TRG (The Red General) "jenderal merah" pimpinan Luhut karena Jokowi merasa jauh lebih aman dan nyaman di kubu Luhut.

Karena adanya ketidak nyamanan Jokowi di dalam kubu Megawati yang tidak ada jaminan keamanan pribadinya dan posisi kekuasaan di masa depannya.

Laju politik di negara yang menganut sistem demokrasi tidak bisa lurus² saja harus idealis tidak seperti sistem kerajaan tapi kadang harus mencampakkan prinsip, keyakinanan, hati nurani dan ideologi bangsa.

Berbeda dengan negara yang menganut sistem monarki / kerajaan rakyat tidak perlu ribut² saling cakar²an ambil pusinh pilih pemimpin karena seorang raja otomatis diangkat sebagai raja atau pemimpin bukan karena kepentingan politik. Tapi karena jalur genetika. Maka itu seorang raja bisa sangat berkharisma di mata rakyatnya dari pada seorang presiden di mata rakyatnya, semua tergantung karakter.

Berbeda bagi negara penganut republik demokrasi negara sangat dipenuhi oleh "para pemain" politikus yang ingin bermain.

Apabila para politikus sudah goncang ideologinya maka dia lebih senang sebagai aktor politik dia dapat bermanufer politik, daripada sebagai karakter militan dalam politik.

Sehingga baginya dalam politik tidak ada kawan sejati yang abadi atau musuh adadi, yang ada adalah kepentingan yang abadi. Yang jauh mengalahkan prinsip, ideologi, partai maupun golongan.

Mari kita yang merasa rakyat biasa ini ingat, bahwa politik itu hanya permainan drama yang dinamis yang mengasyikkan juga menyakitkan.

Jangan terlalu SERIUS, jangan terlalu tegang, jangan terlalu ghuluw (terlalu berlebih-lebihan) mengidolakan terhadap seorang tokoh yang wajar-wajar aja lah, karena ingat ini bukan negara yang ideal yaitu Kerajaan tapi negara demokrasi ala yahudi.

Di negara demokrasi semua bisa berubah bisa jadi "negara merah" atau "negara putih" tergantung siapa yang paling kuat berkuasa itulah yang paling kuat uangnya, sekali lagi duwit!

Karena mereka Prabowo dan Jokowi yang dulu adalah rival dan saling serang sekarang diatas duduk bersama minum kopi sambil ketawa ketiwi aja ngeliat kita berdebat kusir, menghabiskan energi.

Akhirnya sekali lagi saya katakan didalam politik demokrasi tidak ada kawan abadi atau musuh abadi yang ada adalah kepentingan abadi. "Nothing is impossible in politics...!"

*) Penulis Putra Kerajaan Nusantara