Bamsoet: Spanyol Merupakan Negara Industri Olahraga Otomotif Terbesar di Dunia

husnie | Senin, 20 Desember 2021 - 19:54 WIB

Bamsoet: Spanyol Merupakan Negara Industri Olahraga Otomotif Terbesar di Dunia FOTO : Ketua MPR RI Bambang Soesatyo Terima Dubes Kerajaan Spanyol untuk Indonesia


JAKARTA, (otonominews) -- Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo mengajak Duta Besar Kerajaan Spanyol untuk Indonesia H.E. Mr. Francisco De Asis Aguilera Aranda, bersama-sama meyakinkan Dorna Sport yang berkantor pusat di Madrid, Spanyol, bahwa Indonesia pada tahun 2022 nanti siap menyelenggarakan kejuaraan bergengsi MotoGP. Tidak hanya satu putaran, melainkan siap menyelenggarakan MotoGP sebanyak dua putaran.

Selain meningkatkan hubungan diplomatik, ekonomi, sosial, dan budaya, peningkatan kerjasama sektor olahraga, khususnya otomotif, juga sangat penting untuk dilakukan. Terlebih Spanyol merupakan negara dengan industri olahraga otomotif terbesar di dunia.

Kesuksesan menyelenggarakan World Superbike sangat dirasakan manfaatnya bagi Indonesia. Antara lain 1,6 miliar penonton dari berbagai negara dunia menyaksikan kehebatan Indonesia menyelenggarakan World Superbike, memberikan country branding positif bagi Indonesia. Perekonomian NTB tumbuh hingga 5 persen, hotel dan jasa transportasi full booked, kuliner dan industri kerajinan tangan laku keras. Efek ini akan kita tingkatkan saat menyelenggarakan MotoGP dan berbagai event balap kejuaraan dunia lainnya," ujar Bamsoet usai menerima Duta Besar Kerajaan Spanyol untuk Indonesia, H.E. Mr. Francisco De Asis Aguilera Aranda, di Ruang Kerja Ketua MPR RI, Jakarta, Senin (20/12/21).

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, dalam bidang ekonomi dan perdagangan, pada tahun 2020 Spanyol merupakan negara tujuan ekspor Indonesia terbesar ke-5 di Eropa, setelah Belanda, Jerman, Swiss dan Italia, dengan nilai ekspor mencapai USD 1,5 Miliar. Spanyol juga importir terbesar komoditas Sawit Indonesia di Eropa dengan nilai total mencapai USD 749 juta. Nilai ekspor sawit berkisar 35 persen hingga 40 persen dari total ekspor Indonesia ke Spanyol dalam beberapa tahun terakhir.

"Pengelolaan Sawit di Indonesia telah dilaksanakan secara lestari melalui penerapan standar ISPO dan berperan penting dalam pencapaian SDGs, khususnya pengurangan kemiskinan. Tidak heran meskipun terikat pada ketentuan Uni Eropa terkait pembatasan sawit untuk program renewable energy, Spanyol bisa memahami posisi Indonesia terkait dengan sawit dan seringkali menyampaikan keinginan untuk menyuarakan kepentingan Indonesia terkait sawit pada tingkat Uni Eropa," jelas Bamsoet.

Kepala Badan Hubungan Penegakan Hukum, Keamanan dan Pertahanan KADIN Indonesia ini mengajak kalangan usaha dan industri Spanyol untuk merelokasi industri ke Indonesia. Memanfaatkan integrasi ekonomi di Asia Timur dan Tenggara dalam kerangka RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership). Selain itu, Spanyol juga bisa meningkatkan investasi di Indonesia, memanfaatkan berbagai peluang seperti di sektor ekonomi digital, energi terbarukan, kendaraan listrik dan industri battery, serta industri farmasi.

"Kita juga mengapresiasi inisiatif Spanyol yang pada April 2020 lalu mengusulkan draft Agreement on Mutual Recognition of Certification of Fishing Vessel Personnel Indonesia - Spanyol. Perjanjian tersebut akan menempatkan Anak Buah Kapal WNI yang bekerja di kapal-kapal ikan berbendera Spanyol setara dengan pekerja Spanyol. Termasuk memperoleh gaji sesuai UMR setempat, jaminan sosial dan pensiun. Per Mei 2021, jumlah WNI di Spanyol berjumlah 1.464 orang. Diperkirakan lebih dari 10.000 ABK Indonesia bekerja di kapal-kapal Perikanan Spanyol," tandas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum SOKSI ini juga menekankan pentingnya dukungan dan kerjasama dari Parlemen dan Pemerintah Spanyol bagi kesuksesan kepemimpinan Indonesia di G20. Karena itu, Indonesia siap menerima masukan dan membahas lebih lanjut program-program yang dapat memajukan kepentingan bersama dalam kerangka kerjasama Parlemen P20.

"Prioritas Presidensi G20 Indonesia antara lain mencakup pemulihan ekonomi global yang kuat dan inklusif, termasuk pencapaian SDGs tanpa menambah beban bagi negara berkembang; prioritas isu terkait produktivitas, ketahanan dan stabilitas, pertumbuhan berkelanjutan dan menciptakan lingkungan yang kondusif dan kemitraan; penguatan kemitraan global dimana G20 dapat bersinergi dengan berbagai organisasi internasional lainnya," pungkas Bamsoet.