Salamuddin Daeng: Nilai Tukar Rupiah 20 Ribu Per Dolar, Presiden Jokowi Tidak Sanggup Lagi Subsidi BBM

Red | Rabu, 14 September 2022 - 16:50 WIB

Salamuddin Daeng: Nilai Tukar Rupiah 20 Ribu Per Dolar, Presiden Jokowi Tidak Sanggup Lagi Subsidi BBM FOTO : Demo Kenaikan BBM (int)


Oleh : Salamuddin Daeng *)

JAKARTA, (otonominews) -- Subsidi BBM mencapai Rp. 700 triliun, uang darimana? Atau darimana uangnya? APBN tidak akan sanggup! Begitu kata Presiden Jokowi. Besar sekali memang angka subsidi BBM yang disebut presiden! Tapi apakah itu angka yang aktual terjadi dalam APBN 2022?

Bukan! Angka subsidi BBM Rp. 700 triliun itu ramalan presiden Jokowi. Itu adalah signal atau tanda tanda bahwa ekonomi Indonesia telah memburuk. Akibatnya akan terjadi sesuatu yang secara significant membuat subsidi BBM membengkak secara tidak wajar. Apa itu?

Harga minyak tampaknya bukan merupakan faktor utama yang akan membuat subsidi BBM membengkak hingga hampir setara dengan penerimaan pajak saat ini. Harga minyak tampaknya tetap akan flugtuatif naik turun, naik ke 120 dolar per barel atau turun kembali ke 80 dolar per barel.

Lalu apa penyebab yang significant tersebut? Hampir pasti adalah nilai tukar. Mengapa nilai tukar? Karena nilai tukar adalah faktor utama kerentanan ekonomi Indonesia. Sekarang nilai tukar Indonesia hampir mendekati kondisi pada krisis 98. Ke depan bahkan mungkin nilai tukar akan memburuk melewati level krisis yang dulu pernah memporak porandakan negeri ini.

Pada masa pemerintahan SBY 10 tahun lalu, nilai tukar rupiah terhadap USD berada pada kisaran rata rata Rp. 7000 – Rp. 8000 per USD. Sementara rata rata nilai tukar di masa pemerintahan Jokowi Rp. 14. 000 – Rp. 15.000 per USD. Setiap siklus 10 tahunan mata uang rupiah kehilangan nilainya separuh atau paling kurang sepertiga.

Apa yang dikatakan Presiden Jokowi bahwa subsidi BBM bisa mencapai Rp. 700 triliun bisa terjadi jika kurs sekitar Rp. 20.000- Rp. 25.000 per USD. Mungkin kah? Mungkin saja. Nilai tukar Indonesia yang sekarang telah turun separuh dibandingkan masa presiden SBY. Jadi kalau ke depan nilai rupiah turun 1/3 atau separuh dari nilai sekarang bukan hal yang tidak mungkin.

Mengapa kurs bisa merosot begitu besar. Bisa? Penyebabnya sekarang menyedihkan. Tahun ini 2022 devisa Indonesia menurun 12 miliar dolar dibandingkan tahun lalu. Sementara utang luar negeri pemerintah Indonesia berkurang 13 miliar dolar dibandingkan tahun lalu. Ini bahaya bagi rupiah. Presiden Jokowi tampaknya tidak lagi dipercaya oleh pihak internasional, para investor dan lembaga keuangan multilateral. Ini adalah masalah serius. Rupiah bisa ambruk!

Apa yang terjadi? pemerintah Indonesia tidak bisa mendapatkan aliran uang dalam mata uang asing dalam bentuk utang yang selama ini dipakai sebagai sandaran APBN. Sementara uang keluar atau capital outflows tidak bisa ditahan karena membiayai impor BBM dan membayar utang pemerintah yang sudah sangat besar. Maka akibatnya hancurlah nilai tukar rupiah!

Benar kata teman saya, kalau para pengusaha bisa menahan agar aset mereka tidak berkurang separuh saja tahun tahun mendatang, maka itu sudah sangat hebat. Katanya. Bisa jadi ini kemerosotan yang menyebabkan kehilangan separuh atau bahkan 2/3 dari apa yang Indonesia miliki sekarang. Itulah bahayanya kemerosotan nilai tukar rupiah terhadap USD.

Penyataan presiden Jokowi bahwa subsidi BBM Rp. 700 triliun bukan angka riel, tapi adalah signal agar masyarakat Indonesia bersiap siap menyongsong kejatuhan nilai tukar. Tidak ada yang dapat membendungnya. Pemerintah dan BI sulit untuk menahan kejatuhan ini, karena sudah kere.

Sementara para bandit keuangan Indonesia, konglomerat busuk, oligarki parasit, telah bersiap dengan tidak menyimpan harta mereka dalam rupiah. Mereka selalu menyimpan uangnya di luar negeri. Mereka benar benar bandit kutu busuk, tidak ada nasionalismenya sama sekali. Keruk sumber daya alam Indonesia, uangnya ditaruh di luar negeri. Dari dulu!

*) Peneliti Asosiasi Ekonomi dan Politik Indonesia (AEPI)